Search 2.0

Sunday, December 23, 2007

THE BRAND CALLED YOU

Membangun Citra Diri dengan Personal Branding
USD24.95

oleh: Tanadi Santoso

Apa kesamaan antara Hermawan Kertajaya, Deddy Corbuzier, Dr. Boyke, dan Inul Daratista? Ya, betul. Mereka memiliki personal branding yang kuat. Kemudian, apa yang ada dalam fikiran Anda ketika mendengar kata branding? Saya yakin betul bahwa hanya dalam beberapa detik akan muncul di kepala Anda sekian puluh kata atau imaji yang memiliki kedekatan asosiasi dengan kata branding. Perusahaan besar, korporasi, periklanan, Landor, logo, mahal, dan sederet asosiasi lainnya. Dalam proses brainstorming semua kata atau objek yang muncul di atas adalah wajar. Namun dalam proses pengkajian komunikasi periklanan, beberapa kata di atas bisa jadi ada yang perlu dirontokkan alias tidak bisa masuk dalam kategori branding.
Branding atau sering juga disebut sebagai brand building banyak dikaitkan dengan upaya sebuah perusahaan untuk membangun image. Image yang dimaksud tentunya harus memiliki nilai benefit di dalam memberikan sebuah persepsi tertentu yang umumnya bersifat positif. Kekuatan branding yang luar biasa dipandang sangat berpengaruh terhadap suksesnya bisnis sebuah perusahaan.

The Brand Called You yang ditulis Peter Montoya bersama Tim Vandehey merupakan sebuah karya observasi terhadap sebuah aspek advertising yang banyak dilupakan orang kebanyakan. Bisnis konvensional kurang memandang perlunya sebuah Personal Branding dengan alasan bahwa corporate branding sudah cukup makan biaya mahal. Kalau ditambah dengan personal branding, berapa ribu US Dollar lagi yang harus dibelanjakan. Begitu alasan mereka.


The Brand Called You adalah sebuah ringkasan tentang begitu esensialnya peran seorang individu. Dikatakan bahwa semua manusia memiliki personal image, seperti cita rasa humor, tatanan rambut, cara berpakaian, makanan favorit dan lain sebagainya. Secara kolektif, sifat-sifat di atas akan membentuk gambaran mental diri Anda. Hal ini sangat berbeda dengan personal branding di mana dia akan mencari tahu bagaimana cara paling jitu menciptakan sebuah persepsi positif tertentu bagi klien-klien prospektif. Personal Branding tidak harus direlasikan dengan bos korporasi karena Montoya juga memasukkan kategori lain seperti bidang profesi (dokter, pengacara, arsitek dll) ke dalamnya.
Peter Montoya, spesialis untuk personal branding memang menaruh perhatian lebih pada perkembangan ilmu tersebut. Melalui berbagai media seperti majalah, audio cd, website, dan buku-buku hasil karyanya, Montoya akan menjawab segala problema berkaitan dengan personal branding. Personal Branding adalah proses yang akan membawa skill, kepribadian, dan karakteristik unik seseorang dan kemudian membungkusnya menjadi sebuah identitas yang memiliki kekuatan lebih dibanding kompetitor lain.
Personal Branding dipandang memiliki daya magis sebagai salah satu piranti penentu suksesnya sebuah bisnis. Dia adalah aspek alami tentang bagaimana seseorang mengevaluasi figure yang akan dia ajak kerja sama. Semua akan berjalan secara natural. Hanya tinggal bagaimana saja seseorang membangun personal branding-nya secara tepat. Akan ada banyak alat bantu yang diperlukan untuk membantu proses akselerasi pembentukan personal branding Anda.
The Brand Called You ditulis dalam 5 bab di mana di tiap bab masih akan dibagi lagi menjadi sub-sub bahasan secara lebih detil. Bab pertama membahas Personal Branding secara definitif, hubungan antara selling, marketing dan branding serta bagaimana cara kerja personal branding. Roda bisnis sangat bergantung pada keterlibatan Anda sebagai CEO. Tentang bagaimana Anda berburu klien-klien baru. Jika cara konvensional tidak terlalu bisa diharapkan, maka personal branding harus digeber. Sekali Anda mampu menciptakan personal brand yang dahsyat, maka dengan sendirinya klien prospektif akan datang kepada Anda. Ciptakan nilai positif pada fikiran target audience Anda dan berikan alasan paling reasonable kenapa klien harus bekerja dengan Anda. Bisa dipastikan performa Anda akan dikenal secara luas sebagai pribadi yang menyenangkan dan mitra bisnis terpercaya.


Branding ada sebelum selling dan marketing. Dia adalah sumber dari segalanya. Tanpa brand yang kuat, marketing tidaklah efektif dan selling akan menjadi usaha yang sia-sia belaka. Cara kerja Personal Branding pun sangat unik. Bagaimanapun rasionalitasnya pemikiran manusia, dalam hitungan 3-5 detik dia akan langsung memberikan persepsi tentang pribadi individu yang dihadapinya. Biasanya klien prospektif akan mempertimbangkan performa kantor Anda, kualitas kartu nama, penghargaan yang pernah Anda terima, siapa saja klien Anda, bagaimana keakuratan kerja Anda, dan tak kalah pentingnya cara Anda berbusana.
Di bab kedua, Montoya akan menggali brand apa di balik pribadi dan perusahaan Anda. Ini termasuk karakteristik, atribut, dan leading atribut. Personal brand adalah sesuatu yang konkret dan orang akan dengan sangat mudah mengidentifikasikannya. Orang akan melakukan analisa karakteristik Anda dan segera memutuskan untuk menjalin kerja sama dengan Anda atau tidak. Anda pasti memiliki atribut personal yang melekat pada diri Anda dan pasti pula ada satu yang paling dominan. Ambil contoh Micahel Jordan. Semua orang tahu dia keturunan Afro-Americans, berkepala plontos, bertubuh jangkung, dan pemain basket paling top. Dari semua atribut tersebut, bahwa Jordan adalah pemain basket paling top disebut sebagai leading atribut yang berarti adalah personifikasi utama dari dirinya. Dan orang mengenal dia memang sebagai pemain basket paling top.
Meletakkan hal paling mendasar pada personal brand adalah penting. Intinya adalah bahwa Anda harus berbeda dari kompetitor Anda. Diferensiasi adalah krusial. Aa Gym misalnya. Di negeri ini ada banyak sekali pemuka agama yang memang mengemban misi suci untuk menyuarakan kedamaian. Memberikan pesan kepada umat untuk selalu berbuat kebajikan. Dari sekian banyak tokoh agama di Indonesia, rasa-rasanya hanya KH. Abdullah Gymnastiar yang mendapatkan tempat di hati masyarakat. Bukan hanya umat Islam saja yang bisa merasakan kesejukan siraman rohani beliau. Umat agama lain pun menaruh simpati kepada Aa Gym. Tidak heran juga jika majalah Time di Amerika sana menulis profil Aa Gym sebagai figur paling berpengaruh di Indonesia.

Strategi Branding dikupas habis di bab III. Spesialisasi. Betul. Anda harus mempersempit bidang keahlian Anda. Jangan terlibat pada bidang keahlian yang terlalu luas. Ketidakfokusan terhadap bidang yang Anda hadapi bisa jadi bumerang bagi diri Anda sendiri. Lihat saja bagaimana trio Warkop DKI (Dono Kasino Indro) bisa eksis di dunia seni lawak hinggas dua anggotanya dipanggil Tuhan. Mereka sukses karena konsisten pada keahlian yang mereka miliki. Seni menghibur khalayak. Unsur penting selanjutnya adala
positioning. Ketika orang mendengar nama Deddy Corbuzier, mungkin yang langsung terbayang adalah alis tebal, busana serba hitam, sendok bengkok, dan kekuatan magis lainnya. Corbuzier mampu menancapkan positioning yang kuat di dalam fikiran masyarakat bahwa dirinya adalah mentalist yang menjadi symbol tukang sulap hebat di Indonesia. Itulah positioning.
Bagaimana cara agar upaya branding yang Anda lakukan tepat sasaran? Ada banyak media yang bisa memperlancar usaha Anda, Diantaranya dengan direct mail, jejaring bisnis, seminar, peran public relations, dan situs personal. Semua bisa bersifat efektif asal memuat value yang Anda miliki, kemampuan, spesialisasi, dan positioning.
Selain media di atas, Montoya juga melihat bahwa ada piranti berkekuatan super yang akan mampu memperkuat personal branding Anda seperti personal logo, brosur, kartu pos personal, dan advertising. Topik ini dibahas di Bagian ke-4 buku ini. Gus Dur adalah satu dari sekian sedikit figur publik yang mempergunakan teknologi dot com untuk berkomunikasi dengan masyarakat. Dengan Gusdur.net, mantan presiden RI ini menyuarakan opini politik, memberikan informasi kegiatan politik maupun sosial beliau serta menjawab berbagai persoalan masyarakat secara online. Personal Branding yang sangat hebat.
Paling penting dari semua hal tersebut adalah bagaimana Anda tetap menjaga kualitas personal branding Anda. Konklusi ini dipaparkan di akhir bagian. Bisa jadi ini adalah bagian yang paling susah karena sekali Anda gagal mempertahankan personal brand Anda, maka yang terjadi adalah Anda tenggelam dengan sendirinya dan khalayak mengetahui Anda hanya sebagai pecundang belaka. Lain tidak. Personal branding punya dampak yang sangat hebat jika Anda berhasil mengaplikasikannya. Bagi para businessman, ini akan menggelembungkan pundi-pundi hasil kegiatan selling Anda dengan angka yang sangat fantastis bahkan.
Buku ini sangat cocok bagi para figur publik entah itu tokoh politik, artis, tokoh masyarakat, ataupun businessman yang memandang perlunya brand building untuk diri mereka sendiri. Bahkan bisa dibilang, The Brand Called You adalah satu-satunya bacaan wajib untuk personal branding hingga detik ini. Dengan kata pendahuluan oleh Al Ries, buku ini terasa lebih memiliki kekuatan lain. Selamat bercermin dan melihat bagaimana performance Anda saat ini. Menjual tidak?

THE ESSENTIAL DRUCKER

Peter F.Drucker
Edisi pertama, June 2001
Sampul Keras, 358 halaman.

60 tahun hasil karya Peter Drucker dalam sebuah buku.

Oleh: Tanadi Santoso

Peter Drucker adalah gurunya managemen guru, ahlinya ahli managemen. Beliau adalah orang pertama yang meletakkan ilmu dasar2 managemen modern. Pada usia 91 tahun sekarang, Peter Drucker masih saja mempunyai jadwal yang padat untuk mengajar, menjadi konsultan, menulis ataupun berbicara pada acara publik, walaupun kebanyakan sudah harus dilakukan dengan video tape ataupun tele conference. Dari Jack Welch sampai Andy Grove, semua pebisnis penting dunia selalu mendengarakan pesan2nya dengan cermat dan seksama.

Ketika kita sudah mulai melupakan gemerlapnya internet ekonomi, meragukan konsep konsep new economy, inilah waktunya untuk kembali ke dasar2 managemen. Ini lah waktunya membaca ulang Drucker. Buku ini adalah kristalisasi dari buku2 Drucker sebelumnya; The New Realities (1988), Management, Tasks, Responsibilities, Practices (1974), Managing for the Future (1992), Management Challenges for the 21st Century (1999), Management in a Time of Great Change (1995), The Practice of Management (1954), The Frontiers of Management (1986), Innovation and Entrepreneurship (1985), The Effective Executive (1966), dan Post-Capitalist Society (1993).

Memampatkan materi sebanyak itu kedalam satu buku tentu bukan sebuah hal yang mudah, dan Drucker berusaha untuk memampatkannya tanpa menghilangkan inti dari isi masing2 buku tersebut, serta memberikan sedikit pandangan akan hal2 itu pada jaman baru ini. Buku ini sangat cocok untuk mereka yang baru mau mempelajari Drucker dan tidak tahu harus mulai dari mana.

Buku ini adalah pandangan luas Drucker akan MANAGEMENT (bab satu), THE INDIVIDUAL (bab dua) dan SOCIETY (bab tiga). Drucker berusaha memampatkan pandangan pandangannya akan management dalam sebuah buku yang urut dan rapi, menggunakan materi2 nya yang lama, agak baru dan baru. Sebuah Essensial Drucker yang nikmat dan apik.

Drucker memulai dengan mempertanyakan bisnis itu sebenarnya apa? management itu apa? Tujuan bisnis itu apa? Laba bukanlah jawaban yang benar, laba hanyalah validasi akan kebenaran konsep bisnis itu. Kita harus selalu mampertanyakan : Sebenarnya bisnis kita itu bisnis apa, bisnis ini akan menjadi apa, dan bagaimana seharusnya bisnis kita berkembang?

Ada delapan area kunci yang mesti kita cermati; Marketing, Innovation, Human resource, Financial resource, Physical resourse, Productivity, Social responsibility dan Profit requirement. Dalam marketing kita seharusnya tidak mencari yang maksimum tapi yang optimum. Inovasi terbagi dalam tiga hal: produk dan service, market dan sikap pelanggan, serta inovasi dalam cara pembuatan produk atau service itu sendiri.

Dunia bisnis bisa belajar banyak dari Non profit organisation seperti Palang merah, Pastoral, YMCA ataupun Girls scouts. Board of Directors dari perusahaan non profit selalu berfungsi dengan lebih baik dan biasanya juga memberikan kepuasan batiniah yang lebih baik dari pada perusahaan2 biasa.

Ada empat set informasi yang dibutuhkan untuk memajukan perusahaan: informasi dasar, informasi produktivitas, informasi kompetensi dan informasi akan alokasi sumber daya. Cash flow dan neraca adalah informasi dasar yang berfungsi seperti dokter yang meminta pengecekan berat badan, temperatur tubuh, tekanan darah, test darah dan urine. Bila informasi dasar ini tidak baik maka kita tahu ada masalah, tapi bila informasi dasar ini normal maka ini tidak membuktikan apa2, kita belum tentu sehat walau semua hal diatas sudah normal.

Economic Value Added (EVA) dan benchmarking akan membantu kita menentukan informasi produktivitas perusahaan. Kompetensi adalah apa yang dapat kita lakukan dengan baik, tetapi sulit atau tidak dapat dilakukan oleh pesaing kita, kompetensi menjadi pengikat nilai pelanggan dan produk atau servis kita yang unik. Sumber daya yang paling penting dalam sebuah perusahaan adalah sumber daya manusia yang berperforma baik. Tidak semua sumber daya manusia itu krusial dalam eksistensi perusahaan, tapi selalu ada sekelompok orang yang menjadi kunci sukses atau gagalnya perusahaan itu. Nah, kita perlu mengidentifikasikan sumber daya manusia yang langka ini dan memanfaatkannya secara maksimal.

Tugas terpenting dari seorang manager adalah memilih karyawan yang tepat untuk tugas yang tepat. Alfred Sloan dalam 40 tahun kariernya di General Motor selalu memlih sendiri semua eksekutif GM. Beberapa langkah yang disarankan dibuku ini: Pikirkan dulu apa sebenarnya pekerjaan yang diberikan itu, lalu pilihlah dari beberapa calon yang ada. Pertimbangkan matang2 setiap kandidat yang ada, apa kekuatan kandidat masing2, bicarakan kemampuan kandidat itu dengan atasan2 sebelumnya, dan buatlah calon itu mengerti betul tentang apa yang diharapkan dari pekerjaannya. Pemilihan karyawan adalah kunci terpenting sukses tidaknya perusahaan, dan setiap eksekutip harus melakukannya dengan baik.

Kewirausaaan, atau entrepreneurship mendapat porsi cukup banyak dalam buku ini, dimana disebutkan ada 4 strategi yang baik untuk hal ini. Menjadi yang ‘paling’ dalam suatu hal, paling besar, paling inovatip, paling modern, hal ini menjadi sangat beresiko tapi juga memberikan hasil yang terbaik bila sukses. Inovasi yang kreatip adalah strategi kedua, yang mencoba memukul pada tempat yang tidak terduga sebelumnya. Kebanyakan hi tech market berjalan melalui jalur ini.

The entrepreneurial judo, atau terobosan wirausaha yang tepat, mampu mengubah suatu keadaan menjadi berbeda bila kita mampu mengubah sudut pandang, atau market, atau karakteristik suatu produk. Pendatang baru dapat menggunakan ini untuk memutar balikkan pemain lama yang sudah besar. Jepang paling ahli dalam memanfaatkan strategi ini. Keempat, market niche atau ceruk market, juga suatu strategi yang sangat menguntungkan, menggunakan skill atau market yang khusus walaupun kecil tapi jauh dari kompetisi. Disini dibutuhkan suatu kemauan untuk terus maju dan mendominasi ceruk itu supaya tidak diambil alih pebisnis lain.

Efektif adalah sebuah keharusan dari setiap individu untuk menjadi sukses. Dan hal ini dapat dipelajari dan dikembangkan. Setiap eksekutip harus memfokuskan diri pada apa sumbangsih setiap orang pada perusahaan. Kontribusi akan pengetahuan, skill, hubungan pelanggan. Ketika semua karyawan berpikir apa kontribusi saya pada perusahaan, maka masing2 juga akan berpikir bagaimana saya bisa berkembang, apa yang mesti saya pelajari supaya menjadi lebih baik dan standar apa yang harus saya tetapkan pada diri saya.

Ketahuilah kekuatan dan nilai positip anda, kita tidak boleh terlalu fokus pada kelemahan, tetapi haruslah menempa dan mengasah kekuatan kita, menjadikannya lebih kuat dan lebih bisa bersaing dengan yang lain.

Managemen waktu sangatlah penting untuk bisa menjadi efektip dan berhasil. Dimulai dengan pencatatan pemakaian waktu, penganalisaan dan penyempurnaan pemakaian waktu kita. Waktu adalah satu2nya hal yang paling adil dalam dunia ini, siapapun kita akan memiliki jumlah waktu yang sama, bagaimana kita memanfaatkannya dengan efektiplah yang membedakan antara yang sukses dengan yang gagal.

Pengambilan keputusan, komunikasi yang efektip, kepemimpinan, Inovasi dan Sistem belajar yang terus menerus adalah hal-hal lain yang juga mendapat sorotan tajam dalam buku Druker ini. Masyarakat mendatang dan pengaruh manejemen pada masyarakat juga dijabarkan dengan enak dan runtun.

Peter Drucker tinggal di Claremont, California, dirumah yang relatip sederhana. Bicaranya lambat dan teratur. Pandangannya tentang internet menarik untuk disimak, beliau membandingkan internet dengan dunia bioskop atau obat2an. Pengaruh internet terhadap umat manusia sangatlah besar, internet adalah hal yang sangat penting, tapi nilai ekonomisnya tidaklah sebesar yang diperkirakan orang. Begitu pula bioskop yang mempengaruhi kultur perubahan gaya hidup orang, bilamana bisnis bioskop di dunia ini musnah yang paling rugi besar hanyalah Holywood dan Bombay dan maksimal mempengaruhi sejuta orang. Jadi penting tidaknya sebuah fenomena tidak selalu sebanding dengan besar tidaknya nilai eknomonis fenomena itu.

Bila anda telah memiliki banyak buku Drucker, maka ini akan baik sebagai sebuah review akan hal2 yang telah anda baca dulu. Bila anda belum membaca Drucker sama sekali, buku ini awal yang baik. Apapun alasannya, rasanya mempelajari hal2 yang mendasar dalam manajemen adalah sebuah keharusan setiap eksekutip. Selamat menikmati.

Tanadi Santoso

THE INNOVATOR'S SOLUTION

Solusi Bagi Para Inovator Bisnis,
Menciptakan dan Mempertahankan Pertumbuhan Dengan Sukses

Oleh: Tanadi Santoso

Pasar uang menuntut eksekutif dan manajer untuk tumbuh semakin cepat. Pertumbuhan yang cepat mutlak membutuhkan inovasi yang beresiko. Sementara investor tidak menginginkan adanya resiko. Hal ini menimbulkan sebuah dilema bagi sang inovator. Christensen dan Raynor mengungkapkan hal itu pada bagian-bagian awal dari buku The Innovator's Solution. Buku ini adalah lanjutan buku sebelumnya dengan pengarang yang sama. Buku sebelumnya yang juga sukses besar itu berjudul The Innovator's Dilemma. Kaum inovator silicon valley menjadikannya sebagai buku penting. Kedua penulis yang juga konsultan itu terasa sangat pas karena sama-sama memiliki kiprah di sekolah bisnis terkemuka Harvard.

Buku manajemen bisnis ini terbagi dalam 10 bab. Tiap bab sarat dengan ulasan-ulasan teori dan strategi perusahaan agar bisa membangun pertumbuhannya dengan baik. Hal tersebut dapat dijadikan pegangan bagi para manajer. Bab satu diawali dengan argumentasi untuk sekilas mengingatkan adanya dilema bagi para inovator. Bab dua membahas tentang taktik dan strategi mengahadapi pesaing yang kuat. Bab ini memuat model berupa grafik dari 'Disruptive Innovation'. Hal-hal yang berhubungan dengan produk apa yang dikembangkan agar diterima customer dengan imbalan yang kita harapkan ada di bab tiga. Segmentasi pelanggan terutama pelanggan awal saat produk dilepas dibahas di bagian bab empat.

Proses bisnis mana yang dilaksanakan didalam perusahaan dan mana yang seharusnya di-outsource-kan dikupas di bab lima. Bab enam berbicara tentang Return dan Profit yang ditangkap. Struktur organisasi yang bagaimana yang diharapkan bisa men-support hal-hal yang dinginkan ditulis dalam bab tujuh. Bab delapan mengupas strategi dan tingkat fleksibilitas organisasi. Bab sembilan membahas tentang modal dan terakhir bab sepuluh merupakan panduan langkah-langkah yang sebaiknya diperankan para CEO. Contoh kasus yang menarik beberapa muncul dari organisasi perusahaan yang berbasis IT. Alasannya adalah perusahaan IT banyak melakukan inovasi-inovasi baik yang bersifat Sustain maupun Disruptive.

Inovasi dibagi menjadi dua tipe. Pertama inovasi yang sustain, yaitu inovasi berkelanjutan. Tipe ini banyak dilakukan oleh market leader. Kedua adalah inovasi-disruptive bisa diartikan inovasi yang mendobrak. Kata-kata disruptive/mendobrak ini adalah relatif bagi suatu organisasi, mungkin bagi suatu perusahaan tertentu untuk inovasi yang dilakukan bersifat sustain tapi bisa bersifat disruptive untuk inovasi yang sama bagi perusahaan lain. Internet misalnya bagi perusahaan IT sekelas Compaq dan yang lain merupakan inovasi yang sustain tapi tidak bagi Dell's. Ketika perusahaan itu melibas Compaq dengan strategi mendobrak (disruptive)-nya, Dell's menggunakan internet untuk mendapatkan pesanan langsung dari End Customer-nya. Compaq nyaris habis dengan strategi bisnisnya yang mentargetkan penjualan melalui jalur distribusi store retailer atau agen.

Menurut saya ada contoh menarik di Indonesia ketika Honda di hantam oleh produk motor China berharga miring. Walaupun Honda tergolong sustain untuk inovasi motor di area geografis Indonesia, ia merasa terancaman dengan hadirnya motor China. Honda segera mengambil langkah meluncurkan produk versi murahnya yang bergaransi sama dengan produk versi premium price-nya. Produk itu bernama Legenda. Sebuah merek yang mudah untuk di-spell sesuai lidah Indonesia. Bahkan bak sebuah cerita, Legenda diluncurkan dengan rilis keduanya bernama Legenda 2. Tak hanya disitu Honda dengan inovasi sustain-nya dan pengalaman bertahun-tahun, melepaskan produk di kelas 125 CC dengan dua versi. Untuk premiumnya dikeluarkan Kharisma dan untuk low-end diluncurkan Kirana lagi-lagi dengan merek yang mudah di-spell.

Perlu diperhatikan bahwa tidak selalu yang menggunakan inovasi disruptif yang menang begitu juga sebaliknya. Maka harus diperhatikan produk apa yang mesti dikembangkan dan kompetitor mana yang diserang juga dipilih produk apa yang harus diluncurkan. SAP dan Intel ketika ia memilih customer low-end-nya sebagai perluasan pasar dengan cerdiknya SAP men-develop produk ERP versi khusus untuk bisnis berukuran kecil dan menengah. Lalu intel dengan Celeron. Ini adalah sebuah konsep inovasi mendobrak untuk membuka ceruk pasar baru.

Cara meluncurkan produk modular atau menjadi satu paket merupakan hal yang penting dalam proses bisnis. Microsoft menjual terpisah antara sistem operasi Windows dengan aplikasi Office dan mengeruk keuntungan besar. Saya pikir ada contoh lagi yang menarik sebagai bahasan lain, yaitu radio pesan atau pager. Ketika teknologi telepon seluler dengan operator penyedia jaringannya manambahkan fitur sms. Fungsi telepon, pesan bahkan kamera menjadi terintegrasi di handphone. Pager bak panas setahun dibalas hujan sehari diguyur teknologi sms akibatnya barang yang satu ini tidak lagi di tenteng orang di mall-mall, plaza maupun di kantor. Jika keandalan dan kemampuan suatu produk tersebut belum atau tidak cukup baik untuk memenuhi kebutuhan pelanggan, maka produk terintegrasi menjadi pilihannya. Hal ini menjadi salah satu penyebab terjadinya proses komoditisasi, seperti yang terjadi pada pager.

Saat ditemukannya disk drive 3,5 inchi beserta disketnya. Lalu permintaan media penyimpan jenis itu jadi melonjak. Selanjutnya secara mekanik elektronis produk tersebut disulap jadi produk komoditisasi yang fantastis bernama HardDisk. Jadi bila keandalan dan kemampuan suatu produk lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan pelanggan maka produk berarsitektur modular bisa tumbuh dengan baik. Keadaan semacam ini bisa membuat terjadinya de-komoditisasi..

Model organisasi yang bersifat struktural tidak disarankan buku ini sebab tidak fleksibel menghadapi perubahan lingkungan bisnis. Hendaknya dipilih yang bersifat fungsional dan lintas fungsi agar sejalan dengan strategi sustain ataupun disruptive. Para executive diharapkan mampu menerapkan startegi yang telah disusun. Tetapi juga harus menyiapkan strategi lain bagi munculnya situasi-situasi di luar rencana, ini dapat berupa tindakan taktis untuk operasi sehari-hari.

Ada beberapa saran bagi para eksekutif dari The Innovator's Solution. Pertama Jangan terpancing untuk menjalankan strategi bila pasar pelanggan terlihat menarik bagi kompetitor yang sudah mapan. Pikirkan lagi atau cari jalan lain sampai ditemukan sebuah pijakan strategi yang jika dilaksanakan tidak membuat kompetitor mapan jadi terusik atau dengan rela mengabaikannya. Langkah kita harus tidak boleh membuat sang macan raja hutan jadi terbangun sampai terusik apalagi pas lagi lapar bisa-bisa kita dimakan habis oleh sang macan raja hutan.

Kedua jika pelanggan masih menggunakan produk yang telah menjadi primadona, arahkan tim anda untuk mencari cara bersaing dengan produk nonkonsumsi atau pengganti. Dulu sebelum internet ada, untuk berkomunikasi dengan orang yang jauh lokasinya dilakukan lewat telepon karena memang tidak ada pilihan dan telepon menjadi satu-satunya primadona produk komunikasi jarak jauh. Sekarang yang semula internet menjadi produk non konsumsi dari telepon mampu menjadi alternatif komunikasi yang relatif murah. Selanjutnya jika produk nonkonsumsi atau alternatif masih belum ada, tugaskan tim untuk menyelidiki kemungkinan melakukan strategi disruptif.

Apabila ada sesuatu permintaan yang menginginkan customer untuk berbuat sesuatu, maka di situlah anda harus mulai bantu customer. Fokuslah pada segment customer anda, lalu siapkan langakah antisipasi untuk menangkis serangan kompetitor. Dalam bersaing jangan terpaku hanya dalam satu hal carilah peluang lain. Lakukan outsourcing, sehingga tak perlu lagi mengejar ketinggalan di masa lalu tapi gunakan uang untuk membangun kompetensi di masa depan.

Cari jawaban dari : Apakah kita mempunyai cukup resources untuk sukses ?, apa yang perlu dilakukan agar berhasil ?, skala dan prioritas apa yang kita punyai dan gunakan ? Gunakan kesatuan tiga pertanyaan diatas sebagai haluan perusahaan. Anda boleh tidak percaya pada manager yang telah anda percaya. Lalu kembangkan tim riset anda, terus fokus pada profit dan terakhir rawatlah pertumbuhan yang ada.

THE MINDGYM - WAKE YOUR MIND UP

International Bestseller book for charging up your thinking.
The MindGym
Wake Your Mind Up.

Pertama diterbitkan: 2005
Penulis: Team The MindGym
Penerbit: The Warner Books, England
Halaman: 308


Menggugah Pikiran Kita.

Buku ini berbeda dengan buku bisnis umumnya. Best seller ini dibuat di Inggris, bukan di Amerika. Ditulis bukan oleh seorang penulis, tetapi oleh sekelompok team yang telah menggunakan materi 'olah raga pikiran' ini dalam praktek bermacam macam workshop 90 menit-an yang populer. Buku ini dapat di baca lompat2 sesuai kebutuhan anda, serta berisi latihan yang akan memperbaiki cara anda berpikir untuk membentuk kebiasaan positip bertindak.

Pada tahun 80 an, pusat kebugaran mulai marak, dimana orang mulai memperhatikan kesehatannya dan makanan vegetaian pun mulai disukai orang banyak. Di tahun 90 an Yoga, Fengshui dan hal2 kebatinan mulai berkembang pesat di barat. Maka sekelompok orang berpikir tentang apa yang bisa menjadi hit di tahun 2000 an? Nah, orang2 ini berpendapat bahwa perbaikan cara berpikir kita akan jadi kunci penting.

Aplikasi psikologi populer yang berasarkan riset2 mendalam tentang tindak tanduk manusia akan menjadi hal baru yang hangat. Psikologi positip menjadi penting, orang butuh motivasi dan cara baru untuk berpikir positip. Maka sebuah team mulai mendesign workshop2 yang dibuat 90 menit an dan dijual pada perusahaan2. Ada bermacam macam workshop dengan tujuan yang berbeda beda. Sudah ada 100.000 orang lebih yang mengikuti workshop ini di manca negara. 93% mengakui akan mengaplikasikan hasilnya pada pekerjaan sehari hari dan 88% akan merekomendasikan workshop2 ini. Latihan2 ini dibuat untuk membuat orang lebih berpikir positip, lepas dari stress, lebih efektip efisien dalam bekerja, dan lebih kreatip.

Apakah anda orang yang optimistic? Riset membuktikan, orang yang optimis lebih sering mencapai sukses dalam hidupnya, dan umurnya lebih panjang daripada yang pesimis. Dibuku ini ada program latihan 7 hari yang dapat anda coba untuk menaikkan optimisme anda. Contohnya: Berpikirlah tentang kejadian besar yang positip yang baru terjadi, dan gunakan pemikiran yang optimis dan pesimis untuk menganalisanya. Lakukan lagi untuk hal2 negatip yang baru terjadi. Dan rasakan perasaan anda pada saat anda berpikiran positip. Ini akan menyadarkan anda betapa pentingnya optimisme dalam kehidupan dan bisnis anda. Anda dapat melatih kebiasaan untuk berpikir positip dan mengambil keuntungan dari suasana hati dan semangat yang ditimbulkannya.

Ada 20 topik yang diangkat; dimulai dengan pemikiran konsepnya, lalu ada checklist untuk melihat anda sebenarnya seperti apa, ada anekdot dan cerita, lalu ada latihan yang perlu anda jalankan. Ditulis dengan gaya yang enak, dibumbui dengan beberapa gambar dan kotak2 cerita ringan, buku ini bisa menemani anda untuk waktu yang lama.

Bagaimana cara mempengaruhi orang lain? Ada 9 alasan orang menuruti keinginan anda: Orang itu punya alasan yang tepat. Anda mencerahinya dengan memberi inspirasi yang positip. Karena kita memintanya. Atau karena hal ini akan membuat dia merasa nyaman dan senang. Atau karena anda telah melakukan negosiasi dengan dia. Mungkin pula dia lakukan sekedar memberi muka kepada anda. Atau ada orang lain yang mirip dengannya melakukan itu juga. Atau anda memang mempunyai hak atau authorithy untuk menyuruhnya. Atau karena paksaan, anda paksakan orang itu melakukan sesuatu. Nah, dengan mempelajari ini, anda dapat mendesign perintah atau permintaan anda dalam framework yang lebih punya kemungkinan sukses lebih besar.

Ketika kita berbicara dengan orang, dan dia mulai lepas dari fokus pembicaraan, kita tahu bahwa kita tidak lagi berbicara pada frekuensi yang sama lagi. Diskusi jadi kering dan menjemukan. Ada latihan untuk membentuk antusiame lawan bicara, mengurangi resistant dan memperlancar diskusi. Misalnya dengan membuat tindak tanduk kita, postur, cara bicara kita sama dengan lawan bicara akan membuat kita bisa diterima dengan mudah. Kita dapat konek dengan orang lebih baik dalam berkomunikasi kalau mau mempraktekkannya.

Buku ini adalah langkah praktis yang dapat anda aplikasikan dalam kehidupan sehari hari dan akan langsung memberikan dampak positip pada kehidupan anda. Pilihlah topik yang menarik atau berguna untuk anda, dan baca saja bagian itu. Buku ini tidak memberikan cerita atau konsep terlalu panjang. Segala hal disederhanakan sampai pada ambang batas praktikal yang tepat untuk masih dapat dimengerti dan dapat dipraktekkan secara langsung.

Memuji dan bagaimana belajar memuji. Pujian mempunyai kekuatan luar biasa untuk meninggikan semangat orang lain, dan telah terbukti akan manfaatnya dalam berbisnis. Pujian yang baik harus dilakukan dengan tulus dan jujur, dan diberikan segera setelah kejadian yang patut dipuji itu terjadi. Untuk hal2 besar, anda dapat memuji besoknya atau beberapa hari setelahnya. Pujian harus anda lakukan ketika yang dipuji sedang memperhatikan anda. Memuji harus dengan konteks yang enak juga. Detail dan hal yang sangat spesifik lebih layak dipuji. Gaya tubuh dan signal juga dapat anda manfaatkan untuk memuji orang. Bila anda mempraktekkan satu bab ini saja sudah akan membuat anda menjadi orang yang lebih sukses.

Bagaimana kita bisa konek dan merasa sehati dalam pembicaraan kita dengan orang lain? Bagaimana memberi impresi kepada orang lain atas kehadiran anda? Bagaimana hidup rileks dan menghilangkan stress? Bagaimana memenangkan pembicaraan yang sangat berat? Bagaimana membuat anak buah kita menjadi lebih kreatip? Nah, penjelasan, keterangan, landasan dasar, dan latihan2 yang ada akan mencerahi anda dan membuat anda berpikir dengan cara yang baru dan menarik.

Kita dapat memilih bagaimana cara kita berpikir, dan kita dapat memperbaiki otak kita. Kepandaian bukanlah hanya milik orang jenius, karena sebenarnya kitapun mampu unk menjadi lebih baik dalam cara berpikir kalau kita dilatih dan dibiasakan untuk melakukannya. Kita sering kurang menghargai otak kita sendiri karena kita menganggap bahwa itu adalah takdir. Padahal dengan latihan dan kemauan, kita akan mampu memanfaatkan otak kita untuk hidup lebih positip, mempengaruhi orang dengan lebih baik, menghindari stress, meningkatkan kreatifitas dan mengontrol kehidupan kita. Buku ini mengajarkan dengan nikmat dan enak, melalui riset, latihan, dan ceramah yang manarik.

Kelemahan buku ini adalah tidak adanya sesuatu konsep yang baru pada konten materinya, karena semuanya mangambil riset yang sudah lama ada. Juga tidak ada kedalaman pemikiran tentang suatu topik, karena semuanya adalah konsep latihan 90 menit workshop yang dirangkumkan. Tapi The MindGym memberikan sentuhan kemudahan untuk dimengerti, dan mudah di aplikasikan pada kehidupan sehari hari kita. Buku ini sangat berguna buat membangunkan cara berpikir kita untuk memperbaiki kinerja kerja pikiran kita. Buku best seller ini di ikuti dengan sebuah buku lanjutan tentang manajem waktu yang dibuat dengan gaya yang sama, The MindGym: Give Me Time. Keduanya sama2 bergunanya, sama enak dan renyahnya. Cobalah masuk ke situs mereka di www.themindgym.com. Selamat menikmati.

The Perfect Store: Inside eBay

reviewed by: D. Manggala (May 15, 2005)

I was an active buyer in eBay, trying to find some cheap stuffs like gadget (PDA, wi-fi card, or else) and sometimes cheap books (but for books, Amazon's market place is much better). I am not a heavy user of eBay, but I know some friends who buy more things from this online company, including cars (!). They are not buying a car once, but several cars in different occasion...:) One thing that amazed me about its business model is eBay could connect people from almost anywhere in the world to make a huge market for supply-demand on almost anything, anytime (anyone read a story about a ghost or a fighter jet sold on eBay?).
Adam Cohen wrote a nice read book about this successful dotcom titled "The Perfect Store: Inside eBay". This book is a fun read; I like the writing style and also the amount of research and facts backing up the whole writing. In addition, Cohen provides us a multidimensional outlook of eBay (maybe a little bit skewed in favor of eBay); from the start up until its heydey post IPO (inital public offering), from the positive side to the bad side of this online auction company. I think he's quite balance on each side.
One thing that especially good to know is the story about the transitional of a start up company from a place of all geeks to the incoming of MBAs from ivy league universities. The author put some interesting story about this transition including the effects (both positive and negative) of Meg Whitman's coming as the CEO.
According to this book, the first three full time employees of eBay are a perfect mix: Pierre Omidyar (an Iranian-French whose parents migrate to US when he was a child), Jeff Skoll ( a Canadian Jewish), and Mary Lou Song (a Korean-American). In the era of the buzzwords such as "globalization" and "diversity", I think these three people are perfect examples of those words. The common ground for them, I think, are that they were young (mid twenties or so), and believe in that internet could give something good for the societies. Or in Omidyar's words " it's about empowering people.."
If you are just joined as an eBay user recently, this book provides some historical information about many things in the system; for instance, the feedback forum, bulletin board, etc. For me, it helps me a lot to understand more about its business. And also it gives us a story about the Half.com, Paypal and others companies related to online auction which bought out by eBay.
We know that, eBay was having profit from its first day when it was called AuctionWeb. In the early days, they even had to hire a part time employee to open the envelopes from users who send their transactions' fees to their office (whic is Omidyar's apartment) and many envelopes were still unopened. Until years later they have been pretty self sufficient in funding till the time of the IPO came.
One thing that disturbed me a little bit is the timeline in this book. Because Cohen wrote this book by subject, I sometimes confused about the period because it goes back and forth from chapter to chapter (it does not in chronological order); which is ok, but I think it needs time reference somewhere in the writing in each chapter.
My key takeaway from this book is Pierre Omidyar's and his idealism on using internet to empower people. There are a lot of stories and anecdotes about it such as his repetitive words "use the money wisely just it as yours" or his belief to treat all eBay user as a "community". In the early days, almost all eBay employees share the same belief with Pierre (for sure, we don't know about now). Omidyar believes that "people is generally good" and that is the basis of his ethical groundrule for eBay community: "treat others as you want them to treat you" (and yes, that is the golden rule).
So, it is a really interesting book and also a good one, if you do like eBay. There are some interesting real characters also mentioned in detail in this book, such as Jim Griffith, who was known as Uncle Griff, the most helpful person in the bulletin board in the early days, Patty Ruby or Aunt Patty, Skippy, Mary Lou Song and other characters (well you should read the book from here...)
Lesson learned from eBay: Omidyar took a humble start as a start up company, maintain low-key play and almost never spend too much on anything that is not productive. Keep it low profile, high profit...:)

The Search: How Google and Its Rivals Rewrote the Rules of Business and Transformed Our Culture.

reviewed by: D. Manggala (December 12, 2005)

If Microsoft is the king of the IT kingdom, maybe Google is the prince. I personally admire Google as a different company among others in today's world. Its young spirit, geeky approach, and the most important its product (the search engine and gmail) make me a big fan of Googe.

However, John Battelle in his book titled The Search: How Google andIts Rivals Rewrote the Rules of Business and Transformed Our Culture, gave me a more broad (and maybe more objective) perspective about Google. One of his thesis is that not only Google could be more big financially than Microsoft but it has the potential to be more "evil" than that Bill Gates' company. Why? Because the power that Google has by acquiring the knowledge of the world's knowledge in its superdatabase. Any single information that has been submitted, send, uploaded electronically via the internet will be saved by Google (and other search engines) and will stay there forever. The information could be usewd by anyone: government, friend, boss, company and bad people....

John Battelle explain the search business and its significant impact to the IT industries using Google as his central "actor". Being a tech journalist, Battelle could explains thoroughly and lively about the search engine industries and its big potential future. He seems have passion for the search industry which makes the book worth your time; and the sources are insiders like Larry Page, Segei Brin, and CEO Schmidt, the triumvirat of Googles, as well as employees of Googles, ex-Googles, competitors including some people whose business hurt by how Google determining the search rank.

Even though Battelle only uses Google's history as a basis to explain the importance of search today and in the future, but for one who want to read a brief history qabout this company and the history about the famous Google's "Don't be Evil" moto. The moto through a good public communication strategy had made this young company admired by various people froom IT geeks to businessmen to college students. But Battelle, provide examples how Google sometimes bent its own rules and makes it just another big corporate like Microsoft.

One other interesting story is the pathways of Google to jump in to Wall Street. Its stocks IPO (Initial Public Offering) has been a big news starting from when the rumors Google goes public firstly came out. There are a lot of coverages and hypes during the period of Fall 2003 until the day its finally launch it, Friday teh 13th August 2004. While we now know what the Google's stocks worth, this book give us the story behind it, for instance Page and Brin's reluctance of goes public versus their venture capital firms which push them to do so.

The rest of the book, Battelle explain in details about what a search industry could be in the future. That is interesting, but for me its the Google story that makes this book enjoy to be read. Even though Battelle criticize Google alot (or try to put a fair story on it) it most likely that I will not buy and read the book if Battelle do not put "Google" as the subtitle or change the cover design without Google's colors.

THE ULTIMATE COMPETITIVE ADVANTAGE





Secrets of Continually Developing a More Profitable Business Model

Berrett-Koehler Publishing
Donald Mitchell & Carol Coles
Edisi Pertama, Maret 2003
Sampul keras, 334 halaman

Menerobos Batas dengan Business Model yang Inovatip
Buku ini mengupas tuntas tentang bagaimana cara berinovasi dengan model bisnis yang tepat, dan bagaimana anda dapat mengaplikasikannya pada bisnis anda. Donald Mitchell dan Carol Coles adalah penulis penulis yang menarik. Mereka adalah konsultan yang selalu memfokuskan diri pada model bisnis yang inovatip. Donald Mitchell juga menulis buku 2000 Percent Solutions, and dulu beliau termasuk reviewer buku terbaik di amazon.com.

Lalu pelajaran apa yang bisa dipetik dari buku ini? Yang jelas duo penulis mencoba meletakkan sederet unsur-unsur yang sangat fundamental dalam menerapkan apa yang disebut sebagai inovasi model bisnis. Mereka juga banyak memberikan beberapa contoh kisah sukses para pebisnis dunia dan kemudian mengulasnya secara detail dengan mengacu pada teori-teori yang mereka berikan.

Ada beberapa runutan cara mendulang sukses dan bersaing dengan kompetitor. Ini termasuk bagaimana melakukan inovasi, memperluas jangkauan, memperhatikan prioritas dan kemudian membidik target market di luar jangkauan Anda sekalipun.

Sebuah model bisnis memang seharusnyalah adaptif terhadap perubahan kondisi ekonomi. Mau tidak mau para CEO secara otomatis dan pasti juga harus melakukan kajian ulang dan meng-update kebijakan bisnisnya.

Ray Hughes adalah sebuah contoh menarik. Dia adalah seorang caddie di Isle of Man, yang menjadi sukses besar karena dapat memanfaatkan model bisnis yang tepat. Ray mengawali karirnya sebagai seorang caddie, bukan seorang golfer. Dia hanya berharap untuk mendapatkan penghasilan lebih dari service yang diberikannya kepada si golfer.

Berlandaskan pada sebuah pemikiran bahwa service adalah segalanya, Ray pada akhirnya menjadi rebutan para golfer untuk meng-caddie mereka. Jadinya ya begitu, Ray seringkali harus mendampingi dua golfer sekaligus. Bisa jadi dalam sehari dia menggendong empat buah tas golf yang berukuran besar.

Sayangnya cuaca dingin di tanah kelahirannya ini menjadi kurang bersahabat dengan para golfer sehingga secara kuantitas jumlah golfer semakin berkurang. Konsekuensi logisnya, berkurang pula pendapatan Ray.

Ray kemudian memutar otak untuk bisa survive. Dia memutuskan untuk hijrah ke Monterey Peninsula di California di mana cuaca di sana nikmat dan membuat para golfer betah bermain. Ray memilih club yang sangat mahal, sehingga semakin tinggi pula caddie fee yang diterimanya. Sekali lagi dia berprinsip bahwa service itu sangat penting. Pro Shop sebagai tempat untuk registrasi selalu kebanjiran permintaan dari para golfer yang selalu memilih Ray untuk menjadi caddie mereka.

Namun Ray bukanlah pribadi yang rakus. Dia juga memikirkan nasib rekan-rekan sesama caddie. Dia kemudian menawarkan sistem duo caddie for a golfer. Dengan begini dia bisa membantu kawan-kawannya. Dia pun masih juga kecipratan rezeki.

Ray Hughes adalah seorang supel dalam pergaulan termasuk dengan para golfer. Melihat para pegolfer yang juga kebanyakan adalah pebisnis dan sering mengadakan konferensi atau meeting, Ray kemudian berpikir hal lain. “Ini kesempatan bagus!”, teriaknya dalam hati. Untuk mempermudah dan membantu para golfer mempersiapkan semua hal berkenaan dengan acara konferensi, Ray kemudian berinisiatif menyediakan jasa layanan mulai dari meeting dan sleeping rooms, makanan dan layanan lain.

Luar biasa, dari seorang caddie kini Ray Hughes menuai kesuksesan dari semangatnya untuk selalu berinovasi mengikuti perubahan kondisi. Singkat cerita, Ray akhirnya menjadi penyedia multi-services untuk para golfer, termasuk penyediaan jasa caddie, travel agent, dan akomodasi resorts.

Sebuah cerita yang sederhana namun sangat bermakna. Bisa dijadikan ilham buat para pebisnis yang pikirannya lagi kacau karena sampai detik ini belum mampu menyembuhkan sakit di perusahaannya. Krisis ekonomi global memang terasa sesak menyesakkan bagi siapa saja yang belum juga menemukan celah untuk segera keluar dari krisis. Namun hidup bukan harus berakhir di sini saja karena jalan ke depan memang masih panjang. Dan inovasi model bisnis mungkin dapat menyelamatkan bisnis anda.

The Ultimate Competitive Advantage adalah hasil sebuah riset yang melibatkan banyak perusahaan berskala besar dunia. Dengan metode penulisan yang sangat sistematis, saya yakin anda akan mampu memahami, mengaplikasikan rumus atau formula yang coba ditawarkan, mengkaji ulang bisnis Anda dan menyempurnakan model bisnis Anda termasuk di dalamnya pricing, operational cost, dan benefits.

Buku ini mencoba menjabarkan kepada anda bagaimana sebuah perusahaan bisa profit dengan cepat dengan cara melakukan terobosan baru yang disebut Donald dan Carol sebagai continual business model reinvention.

The Ultimate Competitive Advantage disajikan dalam 4 bagian di mana tiap bagian terdiri dari 2 hingga 3 bab. Bagian satu sebagai titik tolak bahasan memuat komponen produktif apa saja yang bisa dijadikan acuan menciptakan inovasi model bisnis ternasuk adjustment harga dan biaya operasional. Di bagian kedua, anda akan semakin memahami bahwa bisnis yang anda jalankan harus dapat menguntungkan semua stakeholder. Anda juga akan dipandu tentang bagaimana proses seleksi ide terhadap pricing option dan juga bagaimana menerapkan konsep model bisnis menjadi sebuah market yang banyak memberikan benefit baik secara positioning maupun finansial bagi usaha Anda.

Ada banyak pilihan perihal model bisnis apa yang paling cocok untuk usaha Anda. Semuanya memiliki keunggulan dan kelemahan masing-masing. Di bagian ke-3, Anda akan disarankan untuk memilih yang dirasa terbaik dengan berbagai pertimbangan, mengembangkan, meramunya dan kemudian melakukan tes formula tersebut. Anda harus fokus pada yang Anda pilih hingga Anda merasa yakin bahwa ini memang tepat atau segera tinggalkan jika hasilnya jauh dari harapan karena ini berarti ada yang salah dengan formula Anda. Di bagian akhir, Anda akan banyak dihadapkan pada kajian khusus bagaimana memberikan dorongan untuk tetap fokus pada area potensial.

Kerja keras adalah sebuah keharusan dalam berbisnis tapi tidaklah cukup, Hardwork is neccessary but not sufficient, kerja tepat dengan innovasi bisnis model yang pas akan jauh lebih cepat membawa sukses dan profit pada bisnis anda. Bilamana anda butuh sebuah pencerahan karena telah jenuh dengan kerja keras rutin, maka buku ini akan membantu anda mencari strategi inovatip yang tepat guna dalam bisnis anda. Selamat menikmati.


Tanadi Santoso

Peresensi adalah Chief Catalyst Officer dari Sam-Design, perusahaan web-design dan multimedia di Jakarta dan Surabaya.

THE TIPPING POINT

Bagaimana Hal-Hal Kecil Behasil Membuat Perrubahan Besar


Buku baru selalu menarik karena kebaruannya, tetapi buku yang telah terbukti laris luar biasa dan diterjemahkan dalam berbagai bahasa serta jadi acuan pandangan baru tentu masih menarik untuk disimak dan ditelaah. The Tipping Point bermula dari sebuah artikel yang ditulis oleh Malcolm Gladwell untuk Tina Brown di New Yorker. Sebagai Jurnalis dan penulis Gladwell mampu menyuguhkan sebuah pemikiran dan analisis epidemi menular. Bukan hanya epidemi penyakit tetapi, juga trend-trend mode, bisnis dan kehidupan sosial. Gladwell menerangkan kisah-kisah kecil yang akhirnya bisa mewabah menjadi sebuah kisah yang besar.Buku ini kecil dan ringan. Terbagi dalam delapan bab penuh kisah-kisah nyata mengagumkan.

Pada bab pertama Gladwell bercerita tentang pemahaman pemikiran The Tipping Point. Dia mengatakan bahwa cara terbaik untuk memahami The Tipping Point adalah membayangkan wabah flu yang bisa terjadi kapan saja. Pada saat tertentu ketika rata-rata pembawa flu bertemu dengan 50 orang setiap hari. Namun saat tingkat sosialisasinya meningkat menjadi 55 orang perhari terjadilah Tipping Point. Sebuah titik ketika fenomena biasa berubah menjadi sebuah krisis masyarakat. Apabila anda membuat grafik untuk perkembangan epidemi flu itu, Tipping Point adalah titik ketika grafik tiba-tiba menjulang hampir tegaklurus.

Pada epidemi terdapat tiga prinsip. Prinsip itu ada bukan cuma di epidemi penyakit patologi klinis. Trend mode, perkembangan bisnis ataupun masalah sosial kemasyarakatan juga memiliki tiga prinsip itu. Tiga prinsip untuk Tipping Point adalah : Hukum tentang yang sedikit; Faktor kelekatan dan Kekuatan konteks.

Di bab dua Gladwell mengungkapkan tentang prinsip Tipping Point yang pertama yaitu Hukum tentang yang sedikit. Disini menjelaskan adanya orang-orang yang mempunyai bakat khusus luar biasa berperan sebagai penghubung, orang bijak pandai dan penjaja. Ketiga peran ini dimiliki oleh sedikit orang dari sekian banyak orang yang ada di lingkaran epidemi.

Prinsip kedua adalah Faktor kelekatan dibahas dalam bab tiga. Untuk menyampaikan sebuah paket informasi, biasanya ada suatu cara sederhana yang dalam situasi tepat dapat membuatnya tak terbendung. Hal sederhana itulah diidentifikasi sebagai faktor kelekatan. Bab empat dan bab lima menyajikan seputar peristiwa-peristiwa berlatar belakang Kekuatan konteks. Bab enam berisi studi kasus. Salah satunya adalah sebuah merek sepatu olah raga terkenal Airwalk. Karena program kampanye iklannya yang inspiratif, Airwalk menjadi booming.

Studi kasus lain bisa dijumpai dalam bab tujuh. Bab ini mengulas secara dalam dan lebar Tipping Point yang terjadi pada kasus merokok disertai dengan hasil-hasil penelitian para psikolog. Statistik hasil penelitian memperkuat pemikiran bahwa merokok merupakan epidemi dengan prinsip Tipping Point. Bab delapan adalah kesimpulan. Bab ini menegaskan bahwa tipping point memungkinkan adanya perubahan yang dahsyat dari sebuah langkah kecil yang tepat.

Sebuah wabah penyakit kelamin di Baltimore diangkat oleh Gladwell sebagai epidemi di bab pertama buku ini. Di kawasan tersebut sebenarnya epidemi bisa dilokalisir disatu daerah tertentu. Wabah ini meningkat saat sosialisasi yang terjadi dari orang di kawasan tersebut meningkat pula. Sosialisasi menurun pada saat musim dingin. Pada musim dingin di kawasan tersebut banyak orang yang memilih beraktivitas di rumah. Ini terutama terjadi pada malam hari saat orang membutuhkan hiburan malam. Setidaknya ada salah satu dari tiga prinsip Tipping Point yang menyertai wabah yang terjadi di Baltimore. Hukum tentang yang sedikit ini adalah peran yang dijalankan oleh para penginfeksi. Faktor Kelekatannya adalah cuaca dan dalam konteks pergaulan sosial yang menyimpang.

Pada tahun 1775 ada seorang pemuda bernama Paul Revere. Pemuda ini mendengar kabar bahwa tentara inggris akan menyerang kota Lexington. Dia mengambil inisatif untuk menyebarkan kabar tersebut kepada para milisi agar siap menghadapi tentara Inggris. Revere menempuh jalan menyewa kuda dan menyebarkan berita tersebut secara berantai ke pos-pos yang dituju. Setiap pos yang dituju diminta untuk menyebarkan ke oarang lainnya.Ketika tentara Inggris telah memasuki Lexington, tak terduga para millisi menyambut dengan perlawanan sengit yang terorganisir dengan rapih. Rangakain peristiwa inilah yang kemudian menjadi awal revolusi Amarika. Paul Revere menjalankan epidemi yang sering disebut 'getok tular'. Getok Tular di bahasa pemasaran disebut 'Word Of Mouth' atau'Buzz Marketing'. Mungkin kita bisa menghitung berapa banyak produk yang kita beli atau jasa yang kita nikmati karena direferensikan oleh teman dan kenalan kita beberapa waktu yang lalu. Bahkan di jaman berteknologi informasi-pun metode komunikasi ini masih terasa sangat efektif. Jika seorang dengan bakat tipe penghubung sedang menjalankan proses ini bisa dilihat semakin efektifnya proses komunikasi ini. Saya pikir fenomena inul di negeri kita tak lepas dari hal ini. Orang yang semula melihat aksi Inul di panggung hajatan kampung atau di CD-nya yang murah itu, lalu orang-orang ini dengan sukarela menginformasikan ke orang lain secara ketok tular. Dalam konteks entertainment dangdut yang murah dan menyenangkan serta faktor kelekatan 'goyang ngebor' yang masyur, terjadilah wabah Inul Mania.

Usaha Wunderman di tahun 1978 untuk meningkatkan penjualan majalah Parade dan TV Guide menggunakan prinsip Tipping Point. Wunderman mengiklankan semacam pemicu berupa kotak emas majalahnya di TV. Siapapun yang mendapatkan kotak emas di majalah itu berhak atas hadiah sebuah rekaman musik. Rekaman yang diminta bisa musik apa saja asal tercamtum di daftar yang ada. Teknik ini disebut 'Treasure Hunt' yang mengajak penonton berinteraksi. Harapannya adalah setelah iklan tersebut tampil, penonton punya keinginan menyaksikan kotak emas sebenarnya yang ada di majalah itu. Unsur yang menjadi gagasan dari iklan ini adalah hal kecil yang merupakan faktor kelekatan bernama 'kotak emas'.

Bernie Goetz adalah seorang penembak dalam kasus pemalakan dirinya di kereta bawah tanah. Goetz diminta memberikan uang sejumlah lima dolar oleh empat pemuda preman. Keempat pemuda ini selalu dijauhi orang karena profesinya itu. Tapi yang terjadi justru sebaliknya. Keempat pemuda itu sama sekali tak menyanga jika korbannya berani melawan. Goetz menembak keempat pemuda preman itu dengan lima kali tembakan. Peristiwa ini menjadi kajian menarik para kriminolog dan psikolog di kota New York. Yang menarik pada peristiwa ini adalah pada saat itu angka kriminalitas di New York sedang meningkat tajam. Pada kasus Bernie Goetz, kriminolog James. Q Wilson dan George Kelling mengungkapkan teori Broken Windows.

Teori ini mengatakan : Jika ada jendela yang pecah karena tindakan kejahatan atau anarki lalu dibiarkan saja, maka orang yang lewat disitu cenderung beranggapan bahwa rumah itu tak berpenghuni atau tak ada yang peduli. Hal ini akan memicu adanya jendela yang pecah lagi dan cenderung mengundang peningkatan angka kriminalitas di daerah tersebut. Lepas dari adanya penjahat disitu atau tidak, kondisi lingkungan yang mendukung atau tak menghalangi munculnya tindakan kriminalitas maka disitulah akan terjadi wabah peningkatan angka kriminalitas. Jadi wabah atau epidemi itu terjadi bukan hanya karena ada yang menyebarkan, tetapi didukung oleh adanya kesempatan yang tercipta oleh lingkungan sekelilingnya. Tipping Point menyebut hal ini sebagai Kekuatan konteks. Kekuatan konteks adalah prinsip ketiga dari Tipping point.

Gladwell juga menulis tentang aturan 150 atau the rule of 150. Angka 150 menyatakan sebuah rentang dimana seseorang masih mampu berhubungan sosial secara baik dengan orang lain. Apabila seorang pemimpin mempunyai 150 anak buah maka secara umum komunikasi yang efektif masih mungkin terjadi. Tentu ada kekhususan-kekhususan dalam peristiwa tertentu yang tidak masuk dalam aturan ini. Rule of 150 dapat diberlakukan pada Span of Control sebuah struktur organisasi. Contoh yang menarik adalah Gore Associates, sebuah perusahaan yang membuat Kabel Komputer, Baju tahan air, Dental Floss, pipa untuk otomotif, semikonduktor, farmasi, isolator dan perlatan kesehatan. Organisasi di buat datar dengan rentang kendali tidak lebih dari 150 orang. Bahkan setiap lahan parkir untuk tiap associate-nya tidak lebih cukup untuk 150 mobil. Apabila karyawan dalam satu pabriknya telah mencapai lebih dari 150, maka Gore membentuk pabrik lagi yang independen. Gore berpendapat apabila tiap orang memiliki tanggung jawab atas tugas atau informasi tertentu dan mendapat pengakuan dari seluruh kelompok, masing-masing menjadi efisien dengan sendirinya.

Agar bisa membuat perubahan besar dari hal-hal kecil, carilah kekuatan konteks sekaliling anda, lalu dapatkan hukum yang sedikit (orang yang berperan sebagai konektor, penasihat bijak, dan penjaja atau salesman) dan bangun faktor kelekatan. Power of network, buzz marketing, dan kesuksesan dengan memanfaatkan jalur tidak resmi, dapat anda manfaatkan untuk kesuksesan anda.

WHATEVER YOU THINK, THINK THE OPPOSITE

Judul: Whatever You think, Think The Opposite
Penulis: Paul Arden
Tebal: 144 halaman
Penerbit: Portfolio Trade
Edisi Sambul Lunak, Maret 2006

Apapun yang anda pikirkan, Pikirkan yang Gila saja.

Kita terjebak. Kita terlalu sering memikirkan solusi terhadap persoalan dengan cara yang sama seperti semua orang lainnya. Maka hasilnya adalah sebuah jebakan kesamaan yang tidak menghasilkan terobosan apapun. Dari kecil kita telah diajarkan cara berpikir dan bertindak berdasarkan semua fakta yang dapat kita akses. Hasilnya semua orang melakukan tidakan yang sama atas data yang sama.

Sebelum tahun 1968 semua pelompat tinggi dunia, melompat dengan badan menghadap kebawah. Pada Olimpiade Mexico 1968, ada pelompat dunia yang melompat dengan cara terbalik, Dick Fosbury, dia melompat tinggi dengan badan menghadap atas, hasilnya adalah lonjakan dari 5'8'' record menjadi 7'4.25'', sebuah lonjakan yang luar biasa. The Fosbury Flop menjadi cara lompat yang diakui dunia. Ini bisa terjadi, karena dia berpikir dengan cara yang terbalik.

Buku ini kecil menarik, penuh gambar, ringan dibaca, dan memberikan sebuah sengatan kepada kita untuk menggugah cara berpikir kita yang selama ini yang selalu bertumpu pada kebiasaan yang sama pada semua orang.

Ada pendapat, ada foto unik, ada teriakan, ada cerita, semuanya dibuat santai, lepas, dan terurai. Tanpa sebuah framework yang mengikat, ini adalah kelemahan dan kekuatan buku ini. Bagi orang yang mencari pendalaman ilmu, disini tidak akan didapat kepuasan itu, tapi bagi pembaca yang ingin sebuah celoteh ringan yang berbeda, ini adalah buku yang renyak dan nikmat.

Kalau anda merasa tidak puas berkerja disatu tempat, semua orang selalu menolak idea2 anda, dan tidak ada satupun keberhasilan anda disana. Paul Arden bilang, katakan pada atasan anda anda mau mengundurkan diri. Maka ada dua kemungkinan, kalau perusahaan anda menganggap anda sangat berharga, maka anda akan ditahan dengan dinaikkan gaji atau fasilitasnya, ini menguntungkan anda. Kalau anda dibiarkan keluar, berarti anda memang tidak dianggap penting disana, lebih baik anda cari pekerjaan lain saja, toh anda tidak merasa nikmat lagi bekerja disana. Nah pemikiran seperti ini tidak umum, tapi menyentuh kebenaran kita.

Mengguncang kemapanan berpikir. Kita pada akhirnya sebelum meninggal dunia apa pernah berpikir bahwa kita menyesal telah melakukan sesuatu yang besar dalam hidup kita? Tidak, kita selalu menyesal karena belum melakukan beberapa impian kita. Mengapa tidak kita coba lakukan selagi bisa? Kegagalan adalah sebuah kebanggaan, keberhasilan adalah sebuah hadiah, tapi ketidak mauan kita untuk mencoba melakukan adalah sebuah dosa kehidupan.

Ada seorang profesor yang sedang mandi telanjang di sungai didepan Oxford, dan tiba2 dia melihat beberapa mahasiswa naik perahu kearahnya. Profesor ini malu, dan setelah berpikir sejenak dia tutupkan handuk kecil yang ada ditangannya, pada mukanya, bukan pada auratnya. Nah, pikirkan, murid2 akan melihat ketelanjangannya tapi tidak melihat siapa dia. Sebuah cara berpikir yang berbeda bukan?

Jarang orang berani memiliki pendapat yang unik, kebanyakan orang itu selalu menyuarakan pendapat orang lain. Apakah anda pernah berpikir tentang pendapat asli anda? Yang mungkin sering ditertawakan orang, dicemooh dan tidak dihiraukan. Bukankah semua kemajuan dunia dimulai dengan hal hal seperti itu?

Sekolah dengan baik, lulus universitas, apakah ini menjamin kesuksesan kita dimasa mendatang? Kegagalan ujian, angka yang jelek, mungkin akan melahirkan kehidupan luar biasa juga dimasa mendatang. Angka rapor yang baik tidak menjamin kesuksesan ataupun kehidupan yang menarik, tapi imaginasi kita lah yang mampu membentuk itu.

Apa sih sebenarnya idea yang baik itu? Idea yang baik adalah idea yang dilaksanakan dan menghasilkan sesuatu kenyataan. Bisa saja sebuah sukses, bisa juga sebuah kegagalan. Idea yang hanya tinggal jadi idea saja tidak ada gunanya betapapun hebatnya idea itu. Memiliki terlalu banyak idea terkadang menjadi sesuatu hal negatip karena tidak ada yang berhasil anda kerjakan. Yang terpenting adalah kemauan anda untuk mengerjakan idea itu. Idea bisa saja datang dari mana saja, keaslian idea tidaklan penting, tapi transformasi idea menjadi tindakan dan kenyataan adalah kunci sukses. Lakukan saja, perbaiki kekurangan anda pada saat menghadapi kesulitan itu.

Cobalah ini: Pada setiap anda menanyakan pendapat orang lain tentang pekerjaan anda, selalu tanyakan apa yang salah dan jelek saja, paksakan orang tersebut tidak boleh memuji atau membenarkan. Hanya boleh mengkritik dan mencacati saja. Setiap orang yang terpaksa menjelekkan anda akan memberikan sebuah kejujuran akan kekurangan pekerjaan anda. Kepuasan kita akan pujian tidak akan membuat kita menjadi lebih baik.

Janganlah bekerja disebuah pekerjaan terlalu lama. Nah ini tentu berlawanan dengan pendapat umum untuk hanya bekerja disebuah perusahaan selamanya. Jaman ini berubah, dan tidak ada lagi kata kelanggengan dunia kerja, maka sebaiknyalah anda siap dipecat, mencoba hal yang lain, bekerja lagi, dan keluar dari pekerjaan saat anda sukses, dan mencoba lagi yang lain.

Imagine. Semua orang ingin kehidupan yang menarik. Tetapi seringkali pada saat kita dihadapkan pada pilihan, kita memilih jalan mudah yang terjamin. Kita ingin meniru John Lenon, Ernest Hemingway, George Best, Andy Warhol, tetapi kita tidak mau mengambil resiko hidup. Keberanian mengambil langkah gila selalu memiliki resiko, karena jalan tersebut belum pernah ditempuh orang, tapi mungkin saja anda akan menemukan keajaiban baru disana. 'Astonish Me!' adalah saran yang paling indah dan menyentuh.

Keputusan adalah pilihan kita, kita bisa menjadi apa saja sesuai dengan pilihan kita. Apakah kita akan menyesal pada keputusan yang buruk? Biasanya tidak, kita sering menyesal karena tidak melakukan apa2 yang menarik dalam hidup ini. Cutilah kerja setahun, mendakilah Himalaya. Tinggalkan kuliah anda kalau memang itu bukan jalan hidup yang anda nikmati. Anda adalah soorang artis yang punya hak atas pilihan anda, anda berhak menggambar apapun pada kanvas kehidupan anda.

Ambisi yang tinggi akan mengangkat anda pada level yang lebih baik dalam kehidupan kerja anda. Bermimpilah yang hebat, cobalah dengan penuh semangat dan hadapilah kesalahan dan kegagalan dengan semangat pembelajaran yang berkelanjutan. Berpikirlah yang berbeda dengan orang lain, jadilah orang mandiri yang unik dan berprestasi. Buku ini adalah buku ringan, yang tidak akan merubah hidup anda, tapi sedikit memberikan gelitik kepada pikiran anda. Dengan separuh isinya berupa gambar2 yang menarik, buku ini jadi terasa nikmat dihirup bersama secangkir kopi dan sepotong kuwe. Selamat menikmati.

Friday, December 21, 2007

THE NEXT BIG THING

By ALAN WOLFE
Malcolm Gladwell examines what makes fads, well, faddish.

It's hard not to be fascinated by fads. A previously unwanted item will attract sudden, enormous, inexplicable attention. The company that provides it will run out. Pundits will read into its popularity portentous meanings for contemporary civilization. The lucky few will make fantastic sums of money. Then, as mysteriously as it appeared, the item wanes in desirability. Within a year or two, whatever it was that had sent people into a frenzy becomes the answer to a trivia question.

Fads remind us of the potential for disorder always lying behind the placid surface of daily life. Economists study fads for examples of speculative mania -- Dutch tulips, perhaps today's Nasdaq -- that inevitably result in depressions. Sociologists teach that in the middle of a fad individuals are more likely to be swayed by crowd psychology than by their own wants. Satirists find in fads human foibles writ large; Melville's ''Confidence Man'' and Twain's ''Man That Corrupted Hadleyburg'' are built around the illusions that lead people to deny what their eyes see in favor of what their hearts desire.

''The Tipping Point,'' by Malcolm Gladwell, is a lively, timely and engaging study of fads. Some of those he writes about fit snugly into the long tradition of crowd behavior: out-of-fashion Hush Puppies resurged into popularity in 1994 and '95; teenagers, despite repeated health warnings, continue to smoke and in the past few years have been doing so in increasing numbers; and in 1998 a book called ''Divine Secrets of the Ya-Ya Sisterhood'' reached a sales mark of two and a half million copies. Some of the other phenomena analyzed by Gladwell are a bit more unusual, including the decline in crime in New York City that began under Mayor Rudolph W. Giuliani. But all of them can be taken as examples of how unpredictable people can be when they find themselves in the throes of doing what everyone else is doing at the same time.

Unlike previous observers of fads, however, Gladwell, a staff writer for The New Yorker, does not emphasize what they teach us about human irrationality. He does the exact opposite. Fads, he claims, are not really fads at all. They are illustrations of what he calls ''the tipping point,'' a term that he appropriates from the highly rational language of medical science, and that he defines as the ''one dramatic moment in an epidemic when everything can change all at once.'' Ideas and products and messages and behaviors, Gladwell writes, spread just as viruses do.

Viruses are contagious, but they move through a population at something like a leisurely pace until a tipping point is reached and they explode into an epidemic. Gladwell extends the idea of the tipping point from natural to social phenomena, from epidemics to fads, insisting that we can discover the scientific principles that govern both.

BOOK EXCERPT
"When we say that a handful of East Village kids started the Hush Puppies epidemic, or that the scattering of the residents of a few housing projects was sufficient to start Baltimore's syphilis epidemic, what we are really saying is that in a given process or system some people matter more than others. This is not, on the face of it, a particularly radical notion. Economists often talk about the 80/20 Principle, which is the idea that in any situation roughly 80 percent of the 'work' will be done by 20 percent of the participants. In most societies, 20 percent of criminals commit 80 percent of crimes. Twenty percent of motorists cause 80 percent of all accidents. Twenty percent of beer drinkers drink 80 percent of all beer. When it comes to epidemics, though, this disproportionality becomes even more extreme: a tiny percentage of people do the majority of the work."
-- from the first chapter of 'The Tipping Point'

Gladwell calls the first such principle the Law of the Few. An idea or behavior spreads because of the unusual qualities of a few key groups of individuals. There are the connectors, networked people who know seemingly everyone and who can make or break reputations on their word alone. There are the mavens, people who acquire such detailed knowledge of a product that others turn to them repeatedly for advice. Then there are the salesmen, those whose enthusiasm for a product can send its sales spiralling upward.

The second law of fads, according to Gladwell, is the Stickiness Factor. All kinds of potential fads exist around us, but only certain ones take. ''Sesame Street'' was failing miserably with test groups when someone, as a last-ditch move, thought of blending real people with puppets. Including a map highlighting the location of the infirmary induced many Yale seniors to heed previously disregarded warnings about getting a tetanus shot. At a time of message overload, finding a way to make something stick is part of making it survive.

Finally, Gladwell discusses the Power of Context. One reason crime declined in New York is that officials put into practice the much-debated broken-windows theory, which held that if subways were cleaned of graffiti and windows were repaired, people would begin to obey the law. Altering the context altered the result. Gladwell offers another example: the Rule of 150. Groups smaller than 150 cannot influence many outside them. Larger groups tend to become impersonal. Knowing that, we begin to realize that one can create a large fad by first creating a series of smaller ones.

Gladwell, who made his career in journalism as a science writer, has a knack for explaining psychological experiments clearly; ''The Tipping Point'' is worth reading just for what it tells us about how we try to make sense out of the world. But its central premise, no matter how often asserted, fails to persuade. Gladwell's rules of epidemic behavior are common sense dressed up as science. We do not need to know about how a virus spreads to know that networking is important, that good salesmen move products or that most ad campaigns fail. And some of his ideas -- for example, that 150 is the ideal size of a human group because 1 to 150 also happens to be the ratio of the size of our neocortex to the size of our entire brain -- are just fanciful.

A virus spreads by replicating itself into as many hosts as it can find. The tipping point it reaches is quantitative in nature; matters achieve epidemic proportions when replication takes off mathematically. The social tipping points of everyday life, by contrast, are qualitative. What makes them fascinating is not the number of times things repeat themselves but the fact that events taking place after the tipping point is reached are not the same as those that took place before.

Consider the most well known of social tipping points, though one that Gladwell does not analyze: partly integrated neighborhoods segregating themselves when whites come to feel that too many blacks live there. A white person who sells a house to an African-American because the latter makes the best offer is ostensibly engaged in the same behavior as a white person who sells a house to an African-American because he is in a panic and just wants to unload his property at any price. But subjectively, their actions are completely different. Before the tipping point, the white seller is rational. Afterwards, his consciousness has changed, and he acts out of fear, ignorance or both. The tipping point takes on a life of its own because human beings, the transmittal agents, unlike viruses, have minds of their own.

Forcing science where science does not belong results not only in misunderstanding; it could also cause harm if taken too seriously. Gladwell points to a rash of Young Werther suicides that took place in Micronesia in the 1970's and 80's. Just like crime or smoking, suicide is contagious, he writes, citing the studies of a University of California sociologist who found that suicides increase after reports of suicide appear in the newspapers.

As with any form of social behavior, there will always be an imitative factor. But it is simply wrong to say that the very essence of suicide is a private language between members of a common subculture. Suicide may not have any essence, but if it has one, it is a private act of a person with serious mental disturbances and not a language at all. Anyone who believes that suicide is contagious the way the flu is contagious may well be distracted from giving the kind of attention that a potential suicide victim needs, the help to deal with problems inside, not behaviors outside.

I wish Malcolm Gladwell had chosen to use his considerable skills as a journalist to describe more examples of actual tipping points. In reaching instead for theory, he reaches well beyond where he, or anyone else, can safely travel. The theory of tipping points requires that ''we reframe the way we think about the world,'' he writes. Actually, the way we think about the world has to reframe the often stilted theories we develop about it.

Alan Wolfe is the director of the Center for Religion and American Public Life at Boston College.

Thursday, December 20, 2007

PURPLE COW

By Seth Godin

When was the last time you noticed a cow? Saw a cow on the side of the road, pulled over and gawked… Not likely. Cows, after you've seen them for a while, are boring. They may be well-bred cows, Six Sigma cows, cows lit by a beautiful light, but they are still boring. A Purple Cow, though: Now, that would really stand out. The essence of the Purple Cow — the reason it would shine among a crowd of perfectly competent, even undeniably excellent cows — is that it would be remarkable. Something remarkable is worth talking about, worth paying attention to. Boring stuff quickly becomes invisible.

The world is full of boring stuff — brown cows — which is why so few people pay attention. Remarkable marketing is the art of building things worth noticing right into your product or service. Not just slapping on the marketing function as a last-minute add-on, but also understanding from the outset that if your offering itself isn't remarkable, then it's invisible — no matter how much you spend on well-crafted advertising. This is an essay about what it takes to create and sell something remarkable. It is a manifesto for anyone who wants to make a difference at their organization by helping create products and services that are worth spreading in the first place. Go ahead and be original, because it’s the people passion, guts, and daring that will win. Not just because going through life with passion and guts beats the alternative (which it does), but also because it's the only way to be successful. Today, the one sure way to fail is to be boring. Your one chance for success is to be remarkable.

Marketing makes no sense. I mean, it appears that there are no rules that always work. What could the Four Seasons and Motel 6 possibly have in common? Other than the fact that both companies have experienced extraordinary success and growth, they couldn't be more different. Or Neiman Marcus and Wal-Mart, both growing during the same decade? Or Nokia (bringing out new hardware every 30 days or so) and Nintendo (marketing the same Game Boy for 14 years in a row)? In no other field do we find such diverse examples of success.

It's like trying to drive looking in the rearview mirror. Sure, those things worked. But do they help us predict what will work tomorrow? The thing that all of those companies have in common is that they have nothing in common. They are outliers. They're on the fringes. Superfast or superslow. Very exclusive or very cheap. Extremely big or extremely small. The reason it's so hard to follow the leader is this: The leader is the leader precisely because he did something remarkable. And that remarkable thing is now taken — so it's no longer remarkable when you decide to do it.

[did I mention that it was okay to forward this article? You can find bonus chapters and
more at h t tp://www.Apurplecow.co m ]

I’m not talking just about soap and cereal here. I’m talking about marketing any idea—whether it’s a political cause or an architectural practice. In each case, if it spreads, you win.

The Sad Truth About Marketing Just About Anything

Forty years ago, Ron Simek, owner of the Tombstone Tap (named for a nearby cemetery) in Medford, Wisconsin, decided to offer a frozen version of his pizza to his customers. It caught on, and before long, Tombstone Pizza was dominating your grocer's freezer. Kraft eventually bought the brand, advertised it like crazy, and made serious dough. This was a great American success story: Invent a good product that everyone wants, advertise it to the masses, earn billions.

That strategy didn't just work for pizza. It worked for most everything in your house, including aspirin. Imagine how much fun it must have been to be the first person to market aspirin. Here's a product that just about every person on earth needed and wanted. A product that was inexpensive, easy to try, and promised huge immediate benefits. Obviously, it was a big hit.

Today, a quick visit to the drugstore turns up lots of aspirin and aspirinlike products: Advil, Aleve, Alka-Seltzer Morning Relief, Anacin, Ascriptin, Aspergum, Bayer, Bayer Children's, Bayer Regimen, Bayer Women's, BC Powder, Bufferin, Cope, Ecotrin, Excedrin Extra Strength, Goody's, Motrin, Nuprin, St. Joseph, Tylenol, and, of course, Vanquish. Within each of those brands, there are variations, sizes, and generics that add up to more than 100 different products to choose from.

Think it's still easy to be an analgesics marketer today? How about a minister or a dog groomer? If you developed a new kind of pain reliever, even one that was a little bit better than the ones that I just listed, what would you do? The obvious answer, if you've got money and you believe in your product, is to spend everything you've got to buy tons of national TV and print advertising.

There are a few problems that you'll face, though. First, you need people who want to buy a pain reliever. While it's a huge market, it's not for everyone. Once you find people who buy pain relievers, then you need people who want to buy a new kind of pain reliever. After all, plenty of people want the "original" kind, the kind they grew up with. Finally, you need to find the people who are willing to listen to what you have to say about your new pain reliever. The vast majority of folks are just too busy and will ignore you, regardless of how many ads you buy. So you just went from an audience of everyone to an audience a fraction of that size. Not only are these folks hard to find, they're picky as well.

Being first in the frozen-pizza category was a good idea. Being first in pain relievers was an even better idea. Alas, they're both taken. Which brings me to the sad truth about marketing just about anything, whether it's a product or a service, whether it's marketed to consumers or corporations: Most people can't buy your product. Either they don't have the money, they don't have the time, or they don't want it.

And those are serious problems. An audience that doesn't have the money to buy what you're selling at the price you need to sell it for is not a market. An audience that doesn't have the time to listen to and understand your pitch treats you as if you and your product were invisible. And an audience that takes the time to hear your pitch and decides that they don't want it . . . well, you're not going to get very far.

The old rule was this: Create safe products and combine them with great marketing. Average products for average people. T h at's broke n . The new rule is: Create remarkable products that the right people seek out.

Sam Adams beer was remarkable, and it captured a huge slice of business from Budweiser. Hard Manufacturing introduced a product that costs 10 times the average (the $9,945 Doernbecher crib) and opened up an entirely new segment of the hospital-crib market. The electric piano let Yamaha steal an increasingly larger share of the traditional piano market away from the entrenched leaders. Vanguard's remarkably low-cost mutual funds continue to whale away at Fidelity's market dominance. Bic lost tons of market share to Japanese competitors that had developed pens that were remarkably fun to write with, just as Bic had stolen the market away from fountain pens a generation or two earlier.

The more intransigent your market, the more crowded the marketplace, the busier your customers, the more you need a Purple Cow. Half-measures will fail. Overhauling the product with dramatic improvements in things that the right customers care about, on the other hand, can have an enormous payoff.

Why There Are So Few Purple Cows

If being a Purple Cow is such an effective way to break through the clutter, why doesn't everyone do it? One reason is that people think the opposite of remarkable is "bad" or "poorly done." They're wrong. Not many companies sell things today that are flat-out lousy. Most sell things that are good enough. That's why the opposite of remarkable is "very good." Very good is an everyday occurrence, hardly worth mentioning — certainly not the basis of breakthrough success. Are you making very good stuff? How fast can you stop? Some people would like you to believe that there are too few great ideas, that their product or their industry or their company simply can't support a great idea. That, of course, is absolute nonsense. Another reason the Purple Cow is so rare is because people are so afraid.

If you're remarkable, then it's likely that some people won't like you. That's part of the definition of remarkable. Nobody gets unanimous praise — ever. The best the timid can hope for is to be unnoticed. Criticism comes to those who stand out.

Playing it safe. Following the rules. They seem like the best ways to avoid failure. Alas, that pattern is awfully dangerous. The current marketing "rules" will ultimately lead to failure. In a crowded marketplace, fitting in is failing. In a busy marketplace, not standing out is the same as being invisible.

So it seems that we face two choices: Either be invisible, uncriticized, anonymous, and safe or take a chance at true greatness, uniqueness, and the Purple Cow. The point is simple, but it bears repeating: Boring always leads to failure. Boring is always the riskiest strategy. Smart businesspeople realize this and work to minimize (but not eliminate) the risk from the process. They know that sometimes it's not going to work, but they accept the fact that that's okay.

Why It Pays (Big) to Be a Purple Cow

As the ability to be remarkable continues to demonstrate its value in the marketplace, the rewards that follow the Purple Cow increase. Whether you develop a new insurance policy, make a hit record, or write a groundbreaking book, the money and satisfaction that followare extraordinary. In exchange for taking the risk, creators of a Purple Cow get a huge upside when they get it right.

Even better, you don't have to be remarkable all the time to enjoy the upside. Starbucks was remarkable a few years ago. Now they're boring. But that burst of innovation and insight has allowed them to expand to thousands of stores around the world. Compare that growth in assets to Maxwell House. Ten years ago, all of the brand value in coffee resided with them, not with Starbucks. But Maxwell House played it safe (they thought), and now they remain stuck with not much more than they had a decade ago. Once you've created something remarkable, the challenge is to do two things simultaneously: One, milk the Purple Cow for everything it's worth. Figure out how to extend it and profit from it for as long as possible. Two, build an environment where you are likely to invent an entirely new Purple Cow in time to replace the first one when its benefits inevitably trail off.

These are contradictory goals. The creator of a Purple Cow enjoys the profits, accolades, and feeling of omniscience that come with a success. None of those outcomes accompany a failed attempt at a new Cow. Thus, the tempting thing to do is to coast. Take no chances.Take profits. Fail to reinvest.

AOL, Marriott, Marvel Comics, Palm, Yahoo — the list goes on and on. Each company had a breakthrough, built an empire around it, and then failed to take another risk. It used to be easy to coast for a long time after a few remarkable successes. Disney coasted for decades. Milton Berle did too. It's too easy to decide to sit out the next round, rationalizing that you're spending the time and energy to build on what you've got instead of investing in the future. So here's one simple, tangible suggestion. Create two teams: the inventors and the milkers. Put them in separate buildings. Hold a formal ceremony when you move a product from one group to the other. Celebrate them both, and rotate people around.

What It Means to Be a Marketer Today

If the Purple Cow is now one of the Ps of marketing, it has a series of big implications for the enterprise. In fact, it changes the definition of marketing. It used to be that engineering invented, manufacturing built, marketing marketed, sales sold, and the president managed the whole shebang. Marketing, better called "advertising," was about communicating the values of a product after it had been developed and manufactured. That's clearly not a valid strategy in a world where product attributes (everything from service to design) are now at the heart of what it means to be a marketer. Marketing is the act of inventing the product. The effort of designing it. The craft of producing it. The art of pricing it. The technique of selling it. How can a Purple Cow company not be run by a marketer?

Companies that create Purple Cows, such as JetBlue Airways, Hasbro, Poland Spring, and Starbucks, have to be run by marketers. Turns out that the CEO of JetBlue made a critical decision on day one: He put the head of marketing in charge of product design and training as well. It shows. JetBlue sells a time-sensitive commodity just like American Airlines does, but somehow it manages to make a profit doing it. All of these companies are marketers at their very core.

The geniuses who managed to invent 1-800-COLLECT are true marketers. They didn't figure out how to market an existing service. Instead, the marketing is built into the product — from the easy-to-remember phone number to the very idea that MCI could steal the collect-call business from the pay-phone companies.

But isn't the same idea true for a local restaurant, a grinding-wheel company, and Citibank? In a world where anything we need is good enough and where just about all of the profit comes from the Purple Cow, we must all be marketers.

You've got a chance to reinvent who you are and what you do. Your company can reenergize itself around the idea of involving designers in marketing and marketers in design. You can stop fighting slow growth with mind-numbing grunt work and start investing in insight and innovation instead. If a company is failing, it's the fault of the most senior management, and the problem is probably this: They are just running a company, not marketing a product. And today, that's a remarkably ineffective way to compete.